Pada
tahun 1913, fisikawan Niels H. D. Bohr mengusulkan sebuah model atom hidrogen.
Bohr, membuat asumsi bahwa elektron pada atom hidrogen berpindah pada orbit di
sekitar inti positif, meloncat dengan loncatan elektrostatis dari inti. Model
Bohr mengikuti mekanika klasik karena potensial Coulomb V=-kZe2/r
membuktikan bahwa gaya sentripetal
(3)
sangat
dibutuhkan bagi elektron untuk berpindah pada lingkaran dengan jari-jari r
dan kecepatan v, namun kelistrikannya tidak stabil karena elektron
selalu dipercepat menuju pusat lingkaran. Hukum elektrodinamik memperkirakan
bahwa percepatan muatan akan meradiasikan cahaya dengan frekuensi f sama dengan gerak periodiknya, yang mana pada
kasus ini frekuensi revolusinya. Ditunjukkan, secara klasik
(4)
energi
total dari elektron adalah jumlah dari energi kinetik dan energi potensial:Sehingga energi total dapat ditulis sebagai:
(5)
Jadi fisika klasik memperkirakan bahwa selagi energi
hilang menjadi radiasi, orbit elektron akan semakin mengecil dan mengecil
sementara itu frekuensi pancaran radiasi akan semakin membesar dan membesar,
lalu meningkatkan kecepatan saat kehilangan energi dan berakhir ketika elektron
sudah mencapai inti. Waktu yang dibutuhkan elektron untuk berpindah menuju inti
bisa dihitung dengan mekanika klasik dan elektrodinamik, itu bernilai dalam
kisaran mikrosekon. Pada sisi pertama, model ini memperkirakan bahwa atom akan
memancarkan radiasi spektrum yang kontinyu dan akan hancur dalam waktu yang
sangat singkat, dengan hasil yang tidak dibayangkan. Bohr “menyelesaikan” kesulitan tersebut dengan dua
postulat.
Postulat pertamanya menyatakan bahwa
Postulat keduanya mengasumsikan bahwa

^{1/2})

Dua Persamaan sebelumnya jika dikombinasikan dan dikuadratkan menjadi
^{1/2})
)


)

)
atau
)
)
atau
)


Postulat pertamanya menyatakan bahwa
“elektron dapat berpindah pada orbit tertentu tanpa memancarkan radiasi”
Dia menyebutkan bahwa orbit tersebut berada pada keadaan yang stasioner. Postulat keduanya mengasumsikan bahwa
“atom akan memancarkan radiasi ketika elektron bertransisi dari satu keadaan stasioner ke keadaan stasioner yang lain dan frekuensi (f) dari sebuah pancaran radiasi bukanlah frekuensi gerak dari orbit yang stabil namun itu berkaitan dengan energi dari orbit yang sesuai dengan teori Planck”
(6)
dimana h adalah konstanta Planck, Ei adalah
energi pada keadaan awal, dan Ef
adalah energi pada keadaan akhir.
Nilai momentum sudut elektron pada atom hidrogen
didapat dari suatu bilangan bulat yang dikalikan dengan konstanta Planck dibagi
2π. Hal ini bisa digunakan bukan hanya untuk atom hidrogen, namun juga atom
dengan muatan inti +Ze dengan elektron berorbit tunggal, contohnya helium terionisasi
satu He+ atau lithium terionisasi dua Li2+.
Jika muatan inti +Ze dan muatan elektron –e, gaya
sentripetalnya dibutuhkan untuk berpindah elektron pada orbit berbentuk
lingkaran yang disajikan melalui gaya Coulomb
kZe2/r2.
Penyelesaian persamaan (3) untuk kecepatan elektron yang mengorbit adalah
(7)
Nilai
momentum sudut Bohr adalah:
(8)
dimana
n disebut bilangan kuantum.Dua Persamaan sebelumnya jika dikombinasikan dan dikuadratkan menjadi
(9)
(10)
yang
disebut dengan jari-jari Bohr. adalah
satuan yang biasa digunakan pada spektroskopi, bernilai 10-10 m atau
10-1 nm.
![]() |
| Gambar 1. Tingkat energi sesuai dengan atom model Bohr (sumber: http://hyperphysics.phy-astr.gsu.edu/hbase/hyde.html#c4) |
Jari-jari Bohr dari atom hidrogen (Z=1) sesuai
dengan jari-jari orbit dengan n = 1. Orbit Bohr yang terkecil
memungkinkan untuk elektron di dalam sebuah atom hidrogen. Karena rn
̴ Z-1, orbit Bohr untuk atom berelektron tunggal dengan Z > 1
mendekati inti yang sesuai dengan hidrogen. Energi total elektron merupakan
subsitusi nilai rn , sehingga:
(11)
Akibatnya energi elektron juga
terkuantisasi, yang mana keadaan stasioner sesuai dengan nilai tertentu dari
total energi. Ini berarti bahwa energi Ei dan Ef yang muncul pada frekuensi di
postulat kedua Bohr harus berasal dari nilai En, dan persamaan hf menjadi:
atau
(12)
yang
bisa ditulis dalam bentuk persamaan Rydberg-Ritz dengan mensubstitusikan f dan membaginya dengan
nilai c, sehingga:
atau
(13)
dimana
(14)
adalah
perkiraan Bohr untuk nilai konstanta Rydberg.
Menggunakan nilai
m, e, c , Bohr menghitung nilai R dan menemukan hasilnya yang
sama dengan nilai yang diperoleh dari spektroskopi yakni 1,097 x 107 m-1 .
Kemungkinan nilai energi atom hidrogen yang diperkirakan oleh model Bohr dengan Z = 1adalah:
(15)
adalah besar dari En
dengan n = 1. (E1 = - E0)
disebut dengan keadaan dasar.
![]() |
| Gambar 2. Diagram level energi (sumber: http://yucopole.jimdo.com/) |
Gambar 2 disebut diagram level energi. Terdapat tiga deret transisi dari keadaan
stasioner pada diagram ini yang terlihat berupa panah vertikal yang digambar
diantara level-level energinya. Frekuensi cahaya yang dipancarkan pada
masing-masing transisi ini adalah selisih dari energi dibagi dengan h
sesuai dengan frekuensi Bohr. Energi yang dibutuhkan untuk melepaskan elektron
dari atom yakninya sebesar 13,6 eV disebut energi inonisasi atau energi ikat (binding energy) elektron. Pola transisi atom atom dapat dilihat pada gambar 3.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar